Selayang Pandang

Jemaat GPIB “Harapan Kasih” Bekasi, bertumbuh dari suatu persekutuan kecil  sektor XII GPIB Jemaat Tugu DKI Jakarta, yang berlokasi di Pulo Gebang Permai, dimana pos pelayanan saat itu berlangsung di rumah salah satu Jemaatnya yaitu keluarga David Ango.

Pertumbuhan jemaat diawali pada tahun 1983 dengan kepindahan keluarga Agustinus Gustaf Anton Molle (Bapak A.G.A. Molle) dari daerah Tanjung Priuk Jakarta Utara ke komplek perumahan Panca Motor, Pondok Ungu.

Seiring dengan kepindahan tersebut, sekalipun lokasi ini jauh namun mereka tetap mengikuti ibadah minggu di sektor XII yang berlokasi di Pulo Gebang Permai. Dan pada tahun selanjutnya  Bapak A.G.A. Molle terpilih sebagai Penatua di sektor pelayanan ini.

Tahun 1984, mulai berkembang dibangun perumahan-perumahan baru di sekitar daerah dimana keluarga A.G.A. Molle tinggal, diantaranya adalah komplek perumahan Setia Bina Sarana (SBS), Barata dan Harapan Jaya I.

Berangkat dari kerinduan yang kuat untuk melayani, Bapak A.G.A. Molle dan keluarga terus mencari keluarga-keluarga Kristen yang tinggal di perumahan-perumahan yang sedang dibangun tersebut dan perumahan-perumahan baru disekitarnya melalui kunjungan-kunjungan.

Didalam setiap kunjungan Bapak A.G.A. Molle yang ditemani oleh anaknya Carolina Viola, mereka selalu mencatat alamat dan nama dari keluarga-keluarga Kristen yang didatangi. Setiap rumah  yang didatangi yang didalamnya ada gambar Tuhan Yesus, adalah sebagai dasar menentukan bahwa warga tersebut adalah orang Kristen, tanpa mempersoalkan dari Gereja mana asalnya. Didalam kunjungannya, keluarga A.G.A. Molle selalu bertanya kepada mereka apakah bersedia untuk bergabung dalam persekutuan bersama di SBS dan sekitarnya..?

Kunjungan  yang dilakukan oleh Bapak A.G.A. Molle pada tahun 1985, yang pertama kali didatangi adalah keluarga Dominggus Tetelepta di komplek perumahan SBS yang saat itu sedang dalam tahap pembangunan.

Selain keluarga Dominggus Tetelepta, dari kunjungan-kunjungan tersebut memang dijumpai  beberapa keluarga Kristen, antara lain keluarga Wenni Kolibu, keluarga Sutoni, keluarga Souputan  dan terus bertambah dengan keluarga-keluarga Kristen yang lainnya diantaranya keluarga Modo, Keluarga Manuputty, keluarga Sihombing, keluarga Rondo dan  keluarga Alex de Fretes.

Bahkan keluarga Dominggus Tetelepta meminta agar rumahnya dapat dipakai untuk aktivitas sekolah minggu. Dan sekolah minggu untuk pertamakalinya di laksanakan di keluarga Dominggus Tetelepta adalah pada tanggal 05 Juli 1985 dengan jumlah anak sekolah minggu sebanyak 6 (enam) anak dengan guru sekolah minggu saat itu adalah Sdri Carolina Viola, anak dari Bapak A.G.A. Molle.

Dengan terus bertambahnya warga kristiani di wilayah tersebut maka  anak-anak usia sekaloh minggu juga semakin bertambah banyak sehingga dilakukan penambahan beberapa guru sekolah minggu antara lain Sdri. Liste Koloway, Ibu Lusye Waroh dan Sdr Ferdi Pandelaki.

Demikian juga semakin bertambahnya anak-anak sekolah minggu maka tidak mungkin lagi setiap hari minggu membawa semua anak-anak tersebut  beribadah ke Pulo Gebang Permai. Dan selanjutnya sekolah minggu tersebut di lakukan di rumah keluarga Wenni Kolibu mulai bulan Oktober 1985.

Keluarga-keluarga Kristen yang tinggal di komplek perumahan baru yang sedang dibangun, Harapan Jaya I, terus semakin bertambah seperti keluarga Vicky Mambo, keluarga Frans Piet Papilaya, keluarga Sinlaloe, keluarga Elsye Harsono, keluarga Ibu Sumi Manulang dan beberapa keluarga Kristen yang lain, maka selanjutnya di bukalah kembali sekolah minggu yang diadakan di rumah keluarga SinlaeloE.

Dengan keluarga-keluarga Kristen yang semakin bertambah tersebut, selanjutnya wilayah ini dikemudian hari diputuskan menjadi wilayah Sub Sektor XII dari Pulo Gebang Permai.

Dengan meminta izin dari pengembang perumahan SBS saat itu,  untuk pertamakalinya diadakan Natal bersama anak-anak sekolah minggu di tahun 1985 yang mengambil tempat di jalan raya tepat di depan rumah keluarga Wenni Kolibu. Pada Perayaan Natal tersebut juga diundang semua keluarga Kristen yang bermukim di sekitar wilayah tersebut.

Mengingat bertambahnya keluarga-keluarga Kristen  dan aktivitas pelayanan yang terus berkembang serta jauhnya jarak dari Harapan Jaya I maupun SBS ke Pulo Gebang Permai maka mereka berkonsultsi dengan koordinator sektor XII Pulo Gebang saat itu, yaitu Pnt A.G.A. Molle dan memohon kepada Majelis Jemaat GPIB Tugu, agar Sub Sektor XII dapat dijadikan  Sektor XIII.

Melalui keputusan Rapat Pleno Majelis Jemaat Tugu Tanggal 19 April 1986, permohonan tersebut disetujui oleh GPIB Jemaat Tugu, yaitu membentuk Sektor Pelayanan ke XIII Ora Et Labora.

Adapaun Penatua Diaken pertama adalah Bapak A.G.A. Molle, Bapak Frans Piet Papilaya, Bapak Wenni Kolibu, Bapak Dominggus Tetelepta, Bapak Vicky mambo dan ibadah pertama dari Sektor XIII Ora Et Labora dilakukan di rumah Bapak Wenni Kolibu.

Sebagai ketua PW pertama saat itu adalah Ibu Manuputty yang diangkat pada tanggal 05 Agustus 1986.

Pada gilirannya, timbullah ide dari jemaat Sektor XIII untuk bisa mendapatkan lahan sebagai tempat ibadah. Pada awalnya dicari lahan disekitar perumahan SBS, akan tetapi muncul rintangan baik ekstern maupun intern anggota jemaat.   Anggota jemaat umumnya berkeinginan membangun gedung Gereja GPIB, tetapi ada beberapa orang yang menginginkan agar gedung Gereja yang dibangun nantinya bersifat oikumene.

Selanjutnya, mereka mengajukan permohonan mendapatkan tanah dan sekaligus ijin membangun rumah ibadah kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat I Bekasi, yang waktu itu dijabat oleh H.Suko Martono, , adapun surat-surat yang diajukan saat itu :

  1. Surat dari Pengurus Gereja Kristen Al Kitab Indonesia Harapan Jaya, tanggal 16 Oktober 1986
  2. Surat dari Ny. Takaliwang selaku Ketua Pembangunan Gedung Pertemuan Warga Kristen, tanggal 26 Februari 1987
  3. Surat dari Bapak D Tetelepta selaku Ketua Panitia Pembangunan balai Pertemuan Kristen, tanggal 12 April 1987
  4. Surat dari Saudara P.Soegeng selaku Koodinator Warga Kristen, tanggal 23 Mei 1987
  5. Surat dari Lurah Harapan Jaya, tanggal 29 September 1987
  6. Surat dari Camat Bekasi Utara, tanggal 1 Oktober 1987

Pada Tahun 1987, Bupati Bekasi menyetujui permohonan itu tetapi dengan menggunakan nama “Balai Pertemuan khusus bagi umat Kristen”, antara lain : GPIB, HKBP, Khatolik, Patekosta, GKI dan sebagainya.

Adapun lokasi dari Balai Pertemuan Khusus bagi Umat Kristen yang disetujui tersebut berada di perumahan Harapan Jaya II, diatas tanah seluas kurang lebih 2.000 m² yang ketika itu masih berwujud sawah-sawah, dengan pembagian masing-masing sebagai berikut :  untuk GPIB seluas 298 m², HKBP seluas 260 m² dan GPDI seluas 231 m².

Untuk wilayah pelayanan Sektor XIII meliputi SBS, Panca Motor, Barata, Bulak Macan, Harapan Jaya I dan II, Rawa Bugel, Titian Indah, Harapan Indah serta Harapan Baru dan seterusnya.

Pada tahun 1988 dibentuklah Panitia Pembangunan gedung Gereja, yang diketuai oleh Bapak Syahrul Kansil dan wakilnya adalah Bapak Corneles Tomaluweng. Tidak lama setelah ditunjuk sebagai ketua panitia pembangunan, Bapak Syahrul Kansil ditugaskan ke Timor Timur, sehingga tugas tanggang jawab beliau dilaksanakan oleh Bapak Corneles Tumaluweng.

Seluruh anggota jemaat turut berpartisipasi dengan penuh semangat melalui persembahan kotak pembangunan yang disediakan Panitia untuk masing-masing keluarga. Hampir setiap hari Bapak Corneles Tumaluweng dan kawan-kawan mengambil persembahan kotak pembangunan guna kelancaran pembiayaan pembangunan fisik gedung Gereja.

Mengawali pekerjaan fisik bangunan gereja, setelah ibadah keluarga, majelis berkumpul pada malam  hari untuk berdoa bersama-sama dan dilanjutkan dengan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Bapak A.G.A. Molle. Bangunan gereja direncanakan berukuran 8 x 15 meter di lokasi persawahan.

Dengan kondisi kas Gereja yang sangat minim saat itu maka Bapak Corneles Tomaloweng dengan penuh upaya memanfaatkan kotak kayu box bekas peti-peti import dari Suzuki Jepang dimana beliau bekerja untuk dipakai sebagai dinding bangunan Gereja, oleh karena itu pada dinding kayu bangunan Gereja disana sini  terdapat tulisan-tulisan Suzuki.

Demikian juga untuk memperoleh material atap bangunan, melalui pergumulan Beliau bertemu dengan seorang manager pabrik seng, yaitu Bapak Yohanes  yang juga warga Kristen. Dengan dibekali surat dari Majelis Beliau menghadap Bapak Yohanes dan oleh Bapak Yohanes dikatakan bahwa ada produk-produk seng yang gagal quality dalam produksi dan seng-seng yang diperlukan tersebut dapat dibeli dengan harga sangat khusus, yang akhirnya dapat dipasang untuk atap bangunan Gereja.

Meskipun saat itu kondisi kas keuangan Jemaat Sektor XIII sangat memprihatinkan, namun melalui pergumulan akhirnya terpasang juga lantai dari conblok.

Menurut Bapak Tomaluweng, sesungguhnya wujud fisik dari bangunan tersebut lebih layak disebut sebagai “kandang ayam” dari pada disebut sebagai bangunan Gereja.  Hal ini disebabkan  karena bangunan dinding bagian atas dan dinding bagian bawah terbuat dari triplek bekas box import barang-barang Suzuki. Adapun dibagian tengah dinding dibuat lubang angin dari ram kawat, sehingga terkesan seperti kandang ayam.

Mengenai lubang angin ini sesungguhnya sengaja dirancang demikian  agar tetap ada sirkulasi udara sehingga hembusan angin dapat masuk dengan demikian tidak membuat kondisi didalam bangunan menjadi panas.

Akhirnya gedung GPIB Sektor XIII “Ora Et Labora” diresmikan dan ditahbiskan pada tanggal 05 Agustus 1989, oleh Pendeta Wangania.

Pada tanggal 05 April 1989, berdasarkan Surat Keputusan Majelis Sinode GPIB, dibentuk Panitia Persiapan Pendewasaan dan Pelembagaan Sektor XIII. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Majelis Sinode,  terhitung tanggal 05 Agustus 1990 di lembagakanlah Sektor XIII dari Jemaat GPIB Tugu DKI Jakarta menjadi “Jemaat GPIB yang ke 197 dengan nama “Jemaat GPIB “Harapan Kasih” di DKI Jakarta (yang seharusnya Jemaat GPIB Harapan Kasih Bekasi).

Jumlah warga jemaat untuk keseluruhan sektor adalah sebanyak 227 Kepala Keluarga yang terdiri dari 983 orang.  Adapaun Penatua dan Diaken yang diperlukan adalah : 17 Penatua dan 17 Diaken.

Puji Tuhan, pada tanggal 07 November 1999, gedung GPIB “Harapan Kasih” yang baru, dapat diresmikan oleh Walikota Bekasi, saat itu Drs H.N. Sontanie,  dan ditahbiskan oleh Ketua Umum Majelis Sinode GPIB saat itu Pdt.O.E.Ch.Wuwungan, D.Th).

Selanjutnya pada tanggal 25 Mei 2006, Gedung serba Guna GPIB “Harapan Kasih” Bekasi diresmikan dan di tahbiskan oleh Ketua I Majelis Sinode GPIB (Pdt.J.D.Sihite, MA).

 

(Penyusun : AHLL/Kom. Inforkom Litbang GPIB “Harapan Kasih” – Bekasi)