About the Post

Author Information

Making A Wish

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Pada Minggu ini saya mengajak Anda semua untuk fokus kepada Hikmat yang diminta oleh Salomo, Raja Kedua dalam Monarkhi Israel. Mengapa penting mengangkat masalah Hikmat itu? Sebab Hikmat adalah hal yang paling perlu dalam melakukan pemerintahan dan kehidupan kita. Bagi pemerintahan atau Pemerintah hal ini amat dilupakan. Lihat bagaimana seruan penolakan terhadap berbagai UU yang Diskriminatif terhadap Perempuan dan Anak, terhadap Pemeluk Agama Lain, terhadap Pelbagai Pihak yang Dirugikan baik dalam Kehidupan Ekonomi dan Sosial Kemsyarakatan lainnya. (lihat seruan Komnas Perempuan dan Seruan Bernada TIDAK SIMPATIKSEBAB TIDAK BHINNEKA TUNGGAL IKA menjelang Pemilukada.

Andai saja berpegang pada Hikmat dari Allah itu, hal-hal yang merugikan atau diskriminatif itu tak akan dilakukan. Berpeganglah pada Empat Pilar Kebangsaan, Pancasila,UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Semua itu hikmat dari Allah. Lalu kita jalankan dengan hikmat dari Allah dan Pengetahuan. Bayangkan , siapapun yang akan terpilih menjadi Gubernur DKI. Banyak orang tertarik kepada tokoh yang mengedepankan perjuangan bagi orang miskin, perumahan bagi yang miskin, lapangan kerja, terbukanya akses pendidikan dan kesehatan yang nyata, serta kesejahteraan bersama. Tentu kedua Cagub itu memiliki kemampuan untuk merealisasikannya. BETI, Beda-beda Tipis. Lihat saja nanti saat sesudah terpilih. Jangan-jangan menjadi BETI LAIN, BEDATINDAKANNYA. Oleh sebab itu taruhannya adalah apakah janji-janji itu nanti akan direalisasikan ataukah HANYATINGGAL JANJI SAJA , seperti judul sebuah nyanyian, Bulan Madu Hanya Tinggal Janji.

Kita sering merayakan HUT kita bukan? Saat sebelum meniup lilin yang menandakan usia yang kita capai, kata sahabat-sahabat kita, Make a wish, make a wish!!!. Saat itu kita agak grogi, sebab belum memiliki suatu wish atau cinta-cita khusus yang ingin dicapai. Lain halnya dengan keadaan Raja Salomo itu . Ia diminta oleh Allah untuk menyatakan apa yang diinginkannya. Masih ingat cerita-cerita raja atau tokoh lain yang bertemu dengan genie atau jin yang keluar dari sebuah botol yang memenjarakannya? Lalu dibuatlah tiga macam keinginan yang akhirnya semuanya fatal saja. RAJA Salomo sangat berbeda. Maaf saja kepada semua raja lain atau pemimpin umat lain. Contoh Permohonan Raja Salomo atau kita sebut saja Salomo’s Wish itu amat berbeda dan ternyata paling Tepat, Benar dan Agung. Artinya, sampai hari ini banyak pemimpin pemerintahan maupun agama tidak meminta hikmat sebagai Wish mereka saat mulai memangku jabatannya. Termasuk siapa saja yang akan terpilih dalam Pemilu atau Pemilukada, jangan-jangan hanya berujung pilu bagi semua. Oleh sebab itu kita semua harus memiliki Hikmat.

Hikmat adalah hal prinsip utama, Wisdom is the Principal Thing, (Dr Jerry Shirley). Permulaan hikmat adalah Perolehlah Hikmat. Perbuatan oleh hikmat. (Amsal 4:7; Yakobus 3:13). Demikian ayat-ayat yang diutamakannya. Menurut saya hikmat bukanlah prinsip tempelan seperti janji-janji manis yang enak terdengar, meskipun disertai gaya menyatakannya dengan kelihatan amat sungguh-sungguh dan menjanjikan. Itu hikmat tempelan. Hikmat haruslah built in, hikmat itu harus suudah menjadi Mind Set Bertkata dan Bertindak kita. Hikmat menjadi Paradigma kita dalam melihat , menyikap dan menindak suatu hal dalam kehidupan pribadi maupun bersama. Dr Jerry Shirley benar tatkala menyatakan: Wisdom is more than a good job, strength or health, or anything. Hikmat adalah Hal Prinsip Utama yang tak ada tandingannya. Mari kita dalami benar yang dikatakan oleh Yakobus :Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan”.

Yang sering kita lihat dan mungkin sering kita lakukan adalah: Menyatakan hikmat kita tetapi dengan kesombongan dan kekasaran kita baik dalam perjumpaan umum ataupun perjumpaan khusus, baik terhadap publik maupun terhadap orang yang kita kasihi. Saya berterimakasih sekali atas poeringatan dari Rasul Yakobus, agar kita menyatakan perbuatan kita oleh hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan. Terjemahan Belandanya lebih jelas, Dat kan alleen maar blijken uit iemands goede daden en liefdevolle wijsheid. Semua itu hanya akan nyata atau terwujud dari perbuatan-perbuatan baik dan hikmat yang penuh kasih. Hikmat adalah kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan yang baik yang didasarkan pada wawasan dan dan pertimbangan atau judgment yang tepat benar, correct atau juist.

Pengetahuan menunjuk pada profisiensi atau kecakapan /kemahiran praktis yang diperlukan untuk bagaimana menangani masalah-masalah yang timbul dalam keseharian kita bersama. Dengan demikian Raja Salomo memakai Hikmat dan Pengetahuan bukan saja untuk membangun Bait Allah tetapi untuk memerintah sebagai Raja Israel Raya Bersatu, the Great United Israel. Yah dengan demilkian untuk membuat Israel memiliki basis yang kuat dalam semua bidang. Kita tahu semua bidang itu seperti I-POL-EK-SOS-HAM (Hak Asasi Manusia)-TOL-BUD-HAN-KAMNAS (memberdayakan ketua RT dan RW untuk menangkal Teroris bermukim di RT atau RWnya), sekarang bukan? Kita dapat saja menyatakan basis kuat Israel adalah Taurat Tuhan.Benar. Tetapi bagaimana melaksanakannya? Harus dilaksanakan dalam ketaatan dan berhikmat. Sama dengan menyatakan NKRI memiliki Pancasila dan UUD 1945. Masalahnya adalah bagaimana pengamalannya dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Pengamalan atau penerapannya harus dilakukan dengan hikmat dan pengetahuan.

Apa yang nyata dari Salomo’s Wish ini? Yang nyata bahwa dalam Wishnya itu Salomo samasekali tidak mementingkan kepentingannya atau kelomp[oknya atau dinastinya. Padahal Tuhan berkata:”Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu”. Bukankah itu bagaikan memberikan kepada Salomo secarik Cek yang Jumlah Uangnya diserahkan kepada Salomo untuk menentukannya. A Blank or Open Check, mungkin yah. Wah, kalau saja seorang Ketua Partai boleh mengisinya dengan nominal yang dikehendakinya, amat bahagia bukan? Juga kalau kita mendapatkan kesempatan seperti itu. Tidak dengan Salomo. Salomo berbeda dari kita semua. Ia minta :”Berilah sekarang kepadaku, hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?”. (ayat 10).

Dalam terjemahan lain dikatakan: Berikanlah kepadaku hikmat dan pengetahuan, (wijsheid en kennis), supaya aku dapat memerintah dengan baik , (zo dat ik het goed kan regeren), sebab sambungnya, siapakah yang dapat mengendalikan Negara Israel yang besar ini dengan kekuatannya sendiri? Raja Salomo dapat saja membentuk Dewan Pertimbangan Agung atau DPA seperti Indonesia dulu. Atau sekarang banyak Panja atau Panitia Ad Hoc dll, bahkan Badan Pertimbangan bagi Presiden umpamanya. Semua itu bagus. Tetapi pada suatu saat seorang Pemimpin berdiri sendiri dan harus membuat keputusan sendiri apapaun bunyi nasihat yang sudah diterimanya. Itulah Pemimpin yang mandiri sebab harus nyata ia memiliki hikmat dan kebijakan dan pengetahuan yang tak dapat ditawar lagi. Jadi benar seperti yang dirumuskan oleh Dr Jerry Shirley. Ia berkata: Wisdom is greater than Monetary Power, (Prov 3:13-16), Ia maksudkan barang dagangan seperti emas dan perak toh memiliki fluktuasinya, tetapi orang yang memiliki hikmat dan pengetahuan memiliki semua yang diharapkan dan pasti lebih berharga atau tak dapat dibandingkan dengan harga emas dan perak di pasar uang dan saham serta pasar stock.

Wisdom is greater than Military Power

Presiden Marcos jatuh,Presiden Suriah sedang menunggu gilirannya, Presiden Mesir dan banyak Presiden di Afrika tipe kekuasaan dan kekuatan militer jatuh. Punya hikmat dan pengetahuan lebih dari pada memiliki Mental Power atau Kekuatan Mental, Akal. (Amsal 4:4-9). Oh yah, pernah saya kemukakan untuk menjadi SMART bukan? Menjadi Smart atau Cerdas berbeda dengan menjadi Wise atau Berhikmat. Dr Jerry lucu juga. Ia berkisah, ada empat orang di pesawat terbang yang pasti akan jatuh ke bumi. Tetapi hanya ada 3 parachute yang tersedia. Sang Pilot menyatakan investasi Negara bagi kepiawaiannya besar sekali. Dus Negara membutuhkannya . Ia mengambil parachute pertama dan segera terjun. Orang kedua adalah Ahli Ilmu Pengetahuan, ia juga berkata bahwa ia memiliki IQ yang tertinggi dan memiliki empat gelar PhD. Dus, dunia membutuhkannya. Ia juga mengambil parachute kedua dan terjun. Tinggallah seorang Penatua dan Seorang Pandu atau Pramuka. Penatua ini berkata dengan bijak, Nak, saya sudah tua. Tetapi engkau masih muda, tahun-tahunmu masih panjang. Ambillah parachute terakhir ini, terjunlah. Tetapi dengan sigap Pramuka ini berkata:”Tidak usah Pak Penatua, hal demikian tidak perlu.

Kita berdua dapat hidup dengan terjun bersama. Orang yang menyatakan dirinya sebagai yang Paling Cerdas /Smartest itu baru saja terjun dengan memakai Ransel Punggung saya”. Makanya kalau Smart jangan Bodoh begitu, sehingga tak bisa membedakan Gulungan Parachute dengan Ransel Pramuka. Ha-ha-ha. Mesti Wise-lah. Joke Dr Jerry yang kedua adalah tentang seorang Pengkhotbah yang sombong. Ia berkata kepada Professor teologinya, saya tak usah belajar apapun untuk mempersiapkan khotbah dan berkhotbah. Begitu saya berdiri di hadapan Jemaat, Tuhan akan memberikan perkataan-perkataan yang akan saya ucapkan”. Pak Professor menatapnya dan berkata: Sungguh, tidak usah belajar?” . Kata Mahasiswa Teologi ini, “Sungguh Pak”. Professor ini memberikan kepada Tugas Berkhotbah (Preaching assignment), lengkap dengan alamat di mana sang mahasiswa harus berkhotbah. Mahasiswa ini menatap dengan mata terbelalak katanya:”Pak Professor,ini kan wilayah Mexico, di mana mereka semua hanya berbicara dalam bahasa Spanyol?”.Professor berkata:”Apabila Tuhan dapat memberikan perkataan-perkataan ke dalam mulutmu, Ia akan dapat melakukannya dalam bahasa Spanyol sekalipun”. Artinya kita harus berhikmat. Akses media on line tentang berbagai pengetahuan amat luas. Maukah kita belajar atau sudah menganggap cukup dan berkata dengan pongahnya, tak perlu belajar lagi? Itulah berhikmat, perlu belajar terus……seumur hidup.

Pernah lihat lambang Gereja GMIM? Lambangnya adalah burung hantu. Itu lambang ilmu pengetahuan. Pernah ada yang menyangka itu lambang kuasa kegelapan. Saya terangkan, bukan Pak, itu lambang Ilmu Pengetahuan. Burung hantu yang bertengger di atas pohon besar ; lebih banyak ia melihat, lebih sedikit ia bicara, lebih sedikit ia bicara, lebih banyak ia dengar. Hebat bukan? Jangan berhikmat duniawi. Hikmat yang harus kita peroleh adalah hikmat dari Allah. Hikmat duniawi itu sensual dan jahat. Lihat Amsal 16:25, 28:11; Dengar bagaimana Pengkhotbah mendefinisikannya: :”Awal perkataan yang keluar dari mulutnya adalah Kebodohan, dan akhir bicaranya adalah Kebebalan yang Mencelakakan”. (Pengkhotbah 10:3).

Bukan saja dalam Bidang Militer dan Politik hal ini dapat berlangsung, tetapi sekarang dalam Bidang Sosial dan Agama amat banyak terjadi. Lihat saja kerusuhan yang ada di mana-mana. Terjemahan NIV amat bagus kita dengar:”Even as he walks along the road, the fool lacks sense, (understanding, intellect, reason, bahasa Belandanya : verstand) and shows everyone how stupid he is”. (Eccl. 10:3). Bagaimana dengan kita? Apakah kita berhikmat? Apakah kita juga berpengetahuan? Kalau kita kekurangan hikmat, maka Yaobus menulis kepada kita:”Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan (hikmat itu) kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadamu”. (Yakobus 1:5).

Sisteim Prioritas dari Raja Salomo sungguh baik di mata Allah. Akibatnya, kita lihat bukan? Allah berkata:”Oleh karena itu yang kauingini, dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak meminta umur panjang, tetapi sebaliknya, engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah merajakan engkau, maka kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu,; selain itu Aku berikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau, dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau”. (ayat 11 dan 12).

Wah, pucuk dicinta, ulam tiba. Wisdom was asked, see All were Added. Siapapun Anda, Pemimpin di Tingkat apapun, Warga Jemaat dari Jemaat atau Gereja manapun, bahkan setiap Warga Bangsa dan Dunia, Milikilah Hikmat Allah. Itulah kebahagiaan yang besar bagi sesama dan bagi diri kita. Amin.

Sumber : www.gpib.org

Tags: ,

No comments yet.

Leave a Reply